PENGALAMAN MENGIKUTI TES MASUK PERGURUAN TINGGI
Arraayah. oleh: asy-sy@heed
Ma’had
Arraayah mudah dijangkau dari segi lokasi, karena kendsraan umum selalu standby
melwatinya. Adanya gapuradi kanan dan kiri pintu gerbang dengan tulisan yang
sangat jelas membuatnya mudah untuk ditemukan.meski begitu, sebagian penduduk
sekitar kurang mengenal Arraayah kecuali di akhir-akhir ini.
Dulu, ketika
pertama kali mendengar nama “arraayah” agak heran. Kenapa? Karena itu pertama
kalinya saya mendengar nama ponpes tersebut. Ternyata ketika diusut infonya,
memang ma’had ini baru beberapa tahun berjalan; terlebih lagi untuk putriyang
baru dibuka tahun sekitar 2010 yang akhirnya saya memutuskan untuk mendaftarkan
diri setelah masa Wiyata Bhakti di madrasah.
Setelah semua berkas
beres, formulir juga sudah diisi, saya putuskan untuk mengirimkannya melalui
pos surat(maklum, waktu itu pendaftaran belum via online hehe). Alhamdulillah
lima hari dari hari pengiriman sampai juga berkas ke PPMB(Panitia Penerimaan Mahasantri
Baru). Waktu tes tiba, saya dan empat teman saya berangkat dari asrama menuju
lokasi tes untuk wilaayah DIY dan sekitarnya. Sampai di sana ternyata yang ikut
tes untuk putri hanya 13 orang. Sedikit? Memang. Lagipula waktu itu nama
Arraayah belum terlalu dikenal. Sedikit butuh perjuangan untuk menuju ke lokasi
tes yang diadakan di Yayasan Al-Madinah, Godean Yogyakarta dikarenakan
lokasinya yang sulit dijangkau. Sampai-sampai kami berlima harus rela
mengojek,,,-jangan ditiru ya...
Tes berjalan
lancar, alhamdulillah. Sebelum datang waktu dzuhur kami sudah
menyelesaikan tes tulis yang memang tidak terlalu sulit bagi kami. Yang menjadi
kebingungan kami saat itu adalah bagaimana pulang kembali ke asrama. Kami harus
mengojek kembali untuk sampai di jalan raya yang kemudian kami lanjutkan dengan
mengendarai bus mini. Tapi, bagaimana caranya? Waktu itu memang kami tidak
memilik contact number para pengojek. Tak disangka, mungkin karena Panitia PMB
melihat kami dan mengamati kami sejak awal masuk yayasan tersebut–karena yang
datang dengan pak ojek yang bukan mahrom hanya kami berlima- akhirnya
menawarkan jasa antar bagi para peserta yang datang menggunakan kendaraan umum.
Sekian lama
kami menanti hasil tes, apakah kami diterima atau tidak, akhirnya datang juga
waktu yang ditunggu-tunggu. Seorang teman yang bersama saya mengikuti tes
langsung online; karena pengumuman diletakkan di situs ma’had ini. Antara
percaya atau tidaknama saya berada dideretan para calon mahasantri baru ,
sayangnya 3 oarng teman saya tidak masuk dalam deretan tersebutL.
Sebenarnya
hanya ingin mencoba, tidak ada keinginan yang menggebu untuk masuk ma’had
tersebut karena memang sangat baru, apalagi saya termasuk angkatan kedua putri
yang masuk ponpes ini. Namun, kehendak Allah tidak ada yang bisa menghentikan
dan saya pun tak pernah menyangka jika inilah jalan hidup yang harus saya
jalani. Hal itu menyadarkan diri dari lamunan panjang bahwa menuntut ilmu
adalah suatu keharusan. Umat Islam terinjak-injakkarena melalaikan hal ini.
Untuk kedua
kalinya saya menginjakkan kaki di ranah barakah ini –sebelumnya datang kesini
diantar oleh paman untuk survey-, betapa takjub hati ini, damai dan tenteram
merasuk dalam jiwa yang kosong.. saya datang tepat di hari akhir batas kedatangna
mahasantri baru. Saya dapati ma’had sepi; ternyata para mahasntri sedang
mengikuti daurah/kajian/semacam OSPEK di masjid. Subhanallah,,,ketika
mendengar para senior bercakap-cakap dengan bahasa Arab, ternyata diri ini
bukanlah apa-apa, belum memiliki kemahiran berbahasa, yang saya lakukan waktu
itu hanya diam mendengar mereka mengatakan sesuatu yang saya tak memahaminya.
Namun, dengan waktu yang takkan berhenti berputar membuat saya sedikit demi
sedikit memahami apa yang mereka katakan; tentu dengan adaptasi.begitu
menyenangkan, teman-teman yang terbuka dan suka bergaul, menemani dalam sepi
dan sendiri, jauh dari keluarga dan teman lama. Bersambung...
Komentar
Posting Komentar